Blognya Anak Kuliahan

Saturday, March 12, 2011

Edisi Kritis Mazhab Frankfurt

Mazhab Frankfurt atau Mazhab Teori Kritis yang sudah mulai lazim dikenal di kalangan akademis, sesungguhnya adalah mazhab pemikiran di Jerman yang muncul sekitar 1923. Disebut Mazhab Frankfurt, karena pada awalnya mazhab ini berasal dari Universitas Frankfurt Institut fur Socialforchung (Institut Penelitian Sosial) yang merupakan jurusan resmi di universitas tersebut.
Mark Horkheimer adalah filsuf generasi pertama dari Mazhab Frankfurt. Ia bahkan sempat menjabat sebagai Direktur Institut fur Socialforchung. Walaupun Horkheimer bukan pemikir paling cemerlang dari mazhab ini, tapi lewat Horkheimerlah, Mazhab Frankfurt memiliki justifikasi untuk menjadi mazhab tersendiri dalam ilmu pengetahuan.
Generasi pertama Mazhab Frankfurt adalah Mark Horkheimer, Theodor Adorno, Walter Benjamin dan Herbert Marcuse. Sedangkan generasi kedua dari Mazhab Frankfurt adalah Jurgen Habermas yang merupakan filsuf paling cemerlang dari mazhab ini.
Kritik Terhadap Positivisme
Masuknya Mazhab Frankfurt ke dalam aliran pemikiran, memiliki arti terjadinya suatu pembalikan tradisi pemikiran sebelumnya, yaitu: positivisme. Pemikiran Mazhab Frankfurt berusaha memperjelas secara rasional kehidupan manusia moderen dan melihat akibat-akibatnya dalam kemanusiaan dan dalam kebudayaan, serta mengkritisi pemikiran-pemikiran abad ke-18 berkaitan dengan penerapan positivisme, masa pencerahan (aukflarung) yang menjadikan manusia menjadi tuan atas dirinya sendiri, tapi diperbudak oleh mesin, sehingga tidak bebas dan merdeka.
Positivisme sebagai paham keilmuan meyakini puncak ilmu pengetahuan manusia adalah ilmu berdasarkan fakta-fakta keras (terukur dan teramati), dan ciri-cirinya antara lain: pertama, ilmu adalah bebas nilai; kedua, pengetahuan yang absah hanya pada fenomena semesta. Metafisika yang mengandaikan sesuatu di belakang fenomena ditolak mentah-mentah; ketiga, semesta direduksi menjadi fakta yang dapat dipersepsi; keempat, paham tentang keteraturan peristiwa di alam semesta yang menisbikan penjelasan di luar ketentuan tersebut; kelima, semua gejala alam dapat dijelaskan secara mekanikal-determinisme seperti layaknya mesin.
Mazhab Frankfurt tidak bersepaham dengan pandangan ini. Mazhab Frankfurt memandang ilmu pengetahuan moderen yang dilatar-belakangi saintisme atau positivisme sudah menghasilkan masyarakat yang irrasional, ideologis dan terasing.
Bencana Modernitas
Kecuali itu, sebagaimana yang sudah disebut di atas, berkembangnya positivisme dan proyek pencerahan mengubah fungsi tenaga manusia dengan mesin. Hal ini agaknya disadari betul oleh Horkheimer dan Adorno – sebagai dua pemikir Mazhab Frankfurt generasi pertama – di mana dirasakan kemenangan yang diperoleh merupakan kemenangan yang penuh bencana.
Hal yang juga mengerikan dari proyek pencerahan dan akibat positivisme adalah menggunakan alam sebagai instrumen untuk menindas sesama manusia. Krisis lingkungan juga adalah akibat buruk dari kecenderungan demikian. Penemuan bom, senjata nuklir dan sebagainya yang harusnya dipakai untuk mewujudkan perdamaian, justru dipandang sebagai bentuk persenjataan yang lebih efektif, sehingga apa yang dimaui manusia untuk dipelajari dari alam adalah bagaimana menguasai alam, mengeksploitasinya dan pada akhirnya menjajah sesamanya.
Saat ini manusia moderen yang mengandaikan pencerahan nyatanya sudah kehilangan kekritisannya dan seolah-olah hanya berpijak pada satu nilai dimensi kebenaran. Kebenaran itupun adalah kebenaran positivisme yang absurd, karena mengagungkan aspek fungsional belaka dan tak melihat substansi yang ada di dalamnya.
Akibatnya, manusia dalam aspek ilmu pengetahuan, seni dan filsafat, pemikiran dan laku sehari-hari, sistim politik, ekonomi dan penerapan teknologi hanya berjalan di permukaan belaka, sehingga tidak pernah merasakan ada yang tidak beres dengan kehidupan yang mereka jalani. Mereka seolah-olah sudah merasa nyaman dengan satu dimensi dari kehidupan moderen mereka, yang sejatinya tidak dipungkiri adalah bibit-bibit bencana baginya, lingkungan dan sesamanya itu, juga ancaman bagi gnerasi-generasi mereka selanjutnya.
Sumber : http://syamsulkurniawan.blogspot.com

No comments:

Post a Comment