Rabu, 12 Oktober 2011

Latar Belakang Pendekatan Kuantitatif Dan Kualitatif

Apabila disimak tulisan-tulisan Faisal (1990,2001), Brannen (1997), Miles and Huberman  (1992), dan Denzin and Lincoln (1994) maka jelas perbedaan dasar sangat menonjol antara kuantitatif dan kualitatif.
Sejak manusia memiliki awal peradabannya, manusia telah sadar akan curiosity-nya dan karena  itu selalu to want to know anything. Ini adalah manusia dengan naluri penelitiannya. Seluruh  ahli peneliti menjadi cikal bakal disiplin ilmu yang diciptakannya dan itu berkembang terus  hingga masa globalisasi dengan teknologi dan informatika mutakhir. Dengan melihat pada perkembangan pohon ilmu sepanjang masa, maka manusia selalu menggunakan penelitian. 
Di dalam meneliti ini, manusia menggunakan metodologi yang selalu berubah untuk mencapai tujuan utama penelitian ialah pengembangan kebenaran dalam ilmu pengetahuan. Jadi metodologi adalah alat  saja yang dapat berubah dari saat ke  saat, sejauh  ia  dapat  dipergunakan  untuk meneliti. Sudah barang  tentu  termasuk  di dalamnya pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Dengan kemajuan dan perkembangan jaman penelitian, tidak dapat didaku bahwa satu pendekatan saja yang paling benar!
Pendekatan lain harus dipertimbangkan karena semua bergerak terus (Phanta Rhei). Ucapan Sumarno adalah gamblang, antara lain: “…statistik hanyalah alat bantu dan tidak pernah dapat menggantikan sama sekali fungsi dari aspek  logika material dan perspektif keilmuan dari masing-masing disiplin” (Sumarno dalam Brennan, 1997:8). Selain statistik, juga  rumus,  kamus  ensiklopedia, materi kualitan, dan seterusnya tidak akan pernah tetap. Mereka hanya methodos (bahasa Yunani: artinya jalan, cara, sarana, alat, dan  seterusnya) yang  setiap  saat dapat diganti dengan yang lebih tepat demi memecahkan masalah dalam suatu obyek penelitian.
Perkembangan penelitian sangat pesat sejak revolusi industri diabad ke-19. Ilmu-ilmu  pengetahuan alam menjadi primadona di pentas keilmuan yaitu biologi, kedokteran, fisika,  matematika, kimia, dan teknik. Pada saat itu pendekatan kuantitatif menjadi dasar dari semua  itu. Terlebih ketika ilmu teknik berkembang dengan aneka kualitatif ada substitusi situasi dan mutual experience, bersama-sama di suatu medan (arena) nan tak terpisahkan yang sangat mutual dan tumpang tindih.
Terasa sekali kuantitatif melontarkan subyek atas obyek yang saling terpisahkan, meneliti  tentang sesuatu. Sebaliknya kualitatif melontarkan obyek atas obyek, yang tak terpisahkan,  meneliti menembus di dalam sesuatu. Dengan perkataan lain, pendekatan kuantitatif to solve the problem by surrounding the problem. Sebaliknya pendekatan kualitatif to solve the problem by penetrating the problem.
Pada dasar pandangan posibilitas generalis, maka pendekatan kuantitatif bebas dari  ikatan konteks dan waktu  (nomothetic statements), sedang pendekatan kualitatif terikat  dari  ikatan  konteks  dan  waktu  (idiographic  statements).  Itulah  sebabnya peneliti kuantitatif dapat dikenai atau dibebani dengan percobaan tertentu, lalu diukur hasilnya  (ada macam-macam  jenis  eksperimen).  Sebaliknya peneliti kualitatif lebih menerjunkan diri dalam riak gelombang  gejolak obyek penelitian dan terbenam di dalamnya. Ini agar dia menjadi mengerti, memahami, dan menghayati  (verstehen) pada obyek penelitiannya.
Pada dasar pandangan posibilitas kausal, maka pendekatan kuantitatif selalu memisahkan antara  sebab riil temporal simultan yang mendahuluinya sebelum akhirnya melahirkan akibat-akibatnya. Sebaliknya pendekatan kualitatif selalu mustahilkan usaha memisahkan sebab dengan akibat, apalagi secara simultan. Sebab dan akibat adalah nebula yang Pantha Rhei (mengalir kontinyu terus menerus).
 Itulah sebabnya pendekatan kuantitatif selalu on line process, satu arah, mulai dari awal sebab, proses, dan akhirnya akibat. Sebaliknya pendekatan kualitatif selalu on cyclus  process,  kontinyu  dan banyak arah, suatu interaksi yang dipetakan dan masing-masing berupa sebab dan akibat sebagai kutub-kutubnya. Proses sebab akibat adalah suatu kelanjutan dari proses sistem model atau paradigma tertentu. Pada dasar pandangan peranan nilai, maka pendekatan kuantitatif  melihat segala sesuatu bebas nilai, obyektif dan harus seperti apa adanya. Sebaliknya pendekatan  kualitatif melihat segala sesuatu tidak pernah bebas nilai, termasuk si peneliti sendiri yang subyektif. Itulah sebabnya penelitian kuantitatif selalu mendaku bahwa penelitian yang terbaik ialah yang obyektif, jujur, netral, dan apa adanya, dan yang terpenting kebal terhadap nilai-nilai di sekitar suatu obyek penelitian. Penelitian kualitatif memustahilkan  hal  ini. Hasil  pengamatan  jenis penelitian, analisa datang dan sekalian hasil penelitian tidak lepas (konstektual) dengan  era, geografi, budaya dan aliran-aliran nilai yang berpengaruh disitu. Peranan nilai hendak dilihat dengan totalitas eksistensialnya.
Demikianlah kelima dasar pandangan yang sangat berbeda antara pendekatan kuantitatif  dengan  kualitatif. Williams menyebut 13 karakter pendekatan kualitatif berdasar perbedaan di muka. Di  antaranya, dijabarkan disini hanya lima karena dianggap bahwa diantara karakter-karakter  tersebut ada nuansa-nuansa yang overlapping antara kedua pendekatan tersebut. Cukup dari  lima  dasar perbedaan dimuka untuk melihat perbedaan kedua pendekatan itu. Kaitan antara dasar  untuk aplikasi kepada proses atau konstruk berikutnya  sebagai  follow-up  ialah pada aspek ilmu dan metodologisnya.

Sumber : Diktat Analisa Kuantitatif, Dr. Suranto

2 komentar:

  1. Artikelnya Bagus,.. Sedikit mengena dengan penelitian saya saat ini, trims For Share :)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...